Cerita Sex Pendekar Naga Mas – Part 57

Cerita Sex Pendekar Naga Mas – Part 57by adminon.Cerita Sex Pendekar Naga Mas – Part 57Pendekar Naga Mas – Part 57 Tanpa diperintah pun serentak orang-orang itu melompat mundur. Cau-ji berhenti tertawa, perlahan-lahan dia mencabut Pedang pembunuh naganya, lalu mengejek, “Ingat baik-baik, dalam penitisan mendatang janganlah melakukan kejahatan.” Habis berkata, pedangnya segera diayun dan menerjang ke arah kerumunan manusia itu. Menghadapi datangnya ancaman, terpaksa kawanan jago itu menggigit bibir, melolos […]

multixnxx-Tight Lookin Asians -17 multixnxx-Tight Lookin Asians -18 multixnxx-Tight Lookin Asians -19Pendekar Naga Mas – Part 57

Tanpa diperintah pun serentak orang-orang itu melompat mundur.
Cau-ji berhenti tertawa, perlahan-lahan dia mencabut Pedang pembunuh naganya, lalu mengejek, “Ingat baik-baik, dalam penitisan mendatang janganlah melakukan kejahatan.”

Habis berkata, pedangnya segera diayun dan menerjang ke arah kerumunan manusia itu.
Menghadapi datangnya ancaman, terpaksa kawanan jago itu menggigit bibir, melolos senjata dan melakukan pengepungan.

Di antara kilatan cahaya tajam, jeritan ngeri berkumandang silih berganti.
Di mana jaring pedang menyapu lewat, hancuran tubuh beterbangan ke empat penjuru.
Tidak sampai tiga gebrakan, sudah ada dua puluhan manusia yang kehilangan nyawa.

Melihat begitu ganas dan buasnya sepak-terjang Manusia pelumat mayat, lima-enam puluhan jago yang menyusul datang kemudian serentak mengambil Am-gi dan menimpuknya dengan gencar bagaikan hujan deras.

Dengan tangan kanan memegang pedang, tangan kiri melancarkan pukulan, Cau-ji merangsek maju, begitu lolos dari timpukan senjata rahasia, dia terjang kerumunan orang banyak itu dan mulai melakukan pembantaian secara besar-besaran.

Dalam waktu singkat bangunan megah yang indah dan mewah itupun berubah jadi neraka dunia, jaring pedang yang menyebar di udara seolah utusan setan pencabut nyawa, dalam waktu singkat kembali tiga puluhan nyawa melayang.

Sedang asyik-asyiknya Cau-ji membantai kawanan jago yang sedang melarikan diri terbirit-birit, mendadak terdengar suara derap kaki kuda yang santar berkumandang dari kejauhan, dia tahu bala bantuan musuh telah datang, segera pemuda itu memperdengarkan suara pekikan yang menusuk telinga.

Permainan pedangnya semakin diperketat, pembantaian pun berlangsung makin mengerikan. Dalam keadaan seperti ini, kawanan jago itu hanya bisa menyesal mengapa orang tuanya hanya memberikan sepasang kaki untuk mereka, sekalipun sekuat tenaga orang-orang itu melarikan diri, namun korban yang berjatuhan di ujung pedang Cau-ji tetap banyak jumlahnya.

Selesai melakukan pembantaian, Cau-ji berdiri menanti di tengah halaman gedung, diawasinya lelaki berbaju hitam yang baru melompat turun dari kudanya itu.
Ternyata jumlah mereka mencapai tiga puluh enam orang dan masing-masing memegang golok panjang di tangan kanan dan tameng di tangan kiri.

Setelah memasuki halaman gedung, orang-orang itu melirik sekejap hancuran tubuh yang berserakan di mana-mana, kemudian secepat kilat mengepung Cau-ji dari empat penjuru. “Hehehe,” Cau-ji tertawa seram, “besar juga nyali kalian, berani mengantar kematian di tempat ini!”

Seorang lelaki berbaju hitam yang berada di posisi tengah segera membentak keras, “Manusia pelumat mayat, kau jangan merasa bangga dulu, coba buktikan dulu apakah hari ini kau bisa lolos dari tangan Sah-cap-lak-thi-wi (tiga puluh enam pengawal baja)!”

“Hehehe, pengawal baja? Akan kulihat seberapa kerasnya tubuh kalian, ayo maju!”
“Serang!” mendadak orang itu membentak keras.

Serentak ketiga puluh enam orang itu bergerak maju melancarkan serangan bersama ke arah Cau-ji.
Diam-diam Cau-ji menghimpun tenaga dalamnya dengan mengalihkan perhatiannya ke ujung pedang, dia sama sekali tak pandang sebelah mata pun terhadap orang-orang itu.
Di sinilah letak kepintaran bocah muda ini, sebab gerakan cepat barisan lawan gampang menggoyahkan pikiran orang, semakin kau perhatikan maka kepalamu akan semakin pening, pandangan matamu akan semakin berkunang.

Mendadak terdengar kawanan jago itu membentak nyaring, segera terlihat ada enam orang bergulingan di atas tanah, dengan tameng melindungi badan, golok panjangnya dipakai untuk membabat kaki Cau-ji.

Bersamaan itu ada enam orang lain melambung ke udara dan mengancam dari atas kepalanya. Sementara enam orang lagi menyerang masuk dari samping mengancam jalan darah penting di dada dan punggung lawan.

Cau-ji berpekik nyaring, tubuhnya melambung ke udara dan melesat sejauh lima tombak dari posisi semula, begitu lolos dari kepungan kedelapan belas orang itu, dia lepaskan satu tusukan ke dada seorang lelaki kekar.
Merasakan datangnya cahaya tajam, lelaki itu segera menyongsong dengan tamengnya, sementara golok panjang di tangan kanannya menyapu ke iga kanan lawan.
“Bluuukkk …!”, disusul jerit kesakitan yang memilukan.

Lelaki itu berikut tamengnya tercabik-cabik oleh jaring pedang yang mengurungnya.
“Criiing …!”, tersisa golok panjangnya yang segera jatuh ke lantai.
Para jago lainnya sama-sama menjerit kaget begitu melihat tameng pelindung badan mereka ternyata ibarat kayu lapuk yang sama sekali tak ada gunanya, kontan barisan pun jadi kalut.

Menggunakan kesempatan yang sangat baik inilah Cau-ji segera mengembangkan serangan pedang maupun pukulannya.
Jeritan ngeri pun bergema silih berganti.
Hancuran badan, ceceran darah berhamburan mengotori seluruh permukaan tanah. Dua puluhan gadis Giok-hong-tong yang semula berniat membantu rekan-rekannya yang sedang bertempur jadi ketakutan setengah mati setelah menyaksikan kehebatan ilmu silat Cau-ji, bukannya maju membantu, perempuan-perempuan itu justru bersembunyi di dalam kamar karena ketakutan.

Setengah jam kemudian jago-jago yang tersisa pun semakin tercecar hebat, tak lama kemudian mereka ikut punah dengan badan hancur-lebur.
Cau-ji tertawa seram, dengan gerakan cepat dia menerobos masuk ke dalam ruangan, kemudian dengan kejinya dia menghabisi semua perempuan anggota Giok-hong-tong yang berada di situ.

Menjelang pagi hari terlihat api berkobar dengan ganasnya membakar bangunan gedung yang megah dan mewah itu.
Dalam waktu singkat lautan api yang membara telah menyelimuti seluruh udara.
Diiringi tertawa seram, Cau-ji pergi meninggalkan tempat itu.

0oo0

Selama beberapa hari berikutnya, secara beruntun Cau-ji menyatroni gedung yang digunakan Jit-seng-kau untuk menampung anggotanya, baik fajar atau malam, pembunuhan berdarah terjadi di mana-mana.

Setiap kali habis melakukan pembunuhan, Cau-ji pun lenyap jejaknya.
Begitulah, dalam waktu singkat ada tujuh-defapan ratus orang anggota Jit-seng-kau yang menemui ajalnya.

Sebagian anggota jit-seng-kau yang melihat gelagat tidak menguntungkan, secara diam-diam kabur meninggalkan induknya.
Tengah hari itu, Su Kiau-kiau bersama Ngo-hong-tong Tongcu si dewi burung hong dengan mengajak tiga orang kakek berusia delapan puluh tahunan yang berdandan aneh tiba di rumah makan Jit-seng-ciu-lau.

Bwe Si-jin segera menemani Ni Ceng-hiang dan Im Jit-koh menyambut kedatangan kelima orang itu masuk ke dalam ruang rahasia.
Tatkala Su Kiau-kiau memperkenalkan ketiga rekan yang dibawanya, diam-diam Bwe Si-jin merasa terperanjat sekali.

Dia sama sekali tak menyangka kalau tiga siluman dari wilayah Biau ternyata masih hidup, dia lebih kuatir lagi ketika mengetahui bahwa ketiga jago itu merupakan jago yang lihai dalam menggunakan racun.

Ketika Su Kiau-kiau mendapat tahu kalau Manusia pelumat mayat telah melakukan pembunuhan secara besar-besaran, bahkan telah memusnahkan ratusan jagonya, dalam terkejut dan ngerinya dia pun segera memohon bantuan dari tiga manusia siluman itu.

Setelah tertawa seram berulang kali, terdengar siluman pertama berkata, “Kaucu, tak ada salahnya kita gunakan cara yang sama untuk membalas mereka, bagaimana kalau kita habisi dulu para jago dari partai besar?”

“Hebat!” sahut Su Kiau-kiau gembira, “kalau begitu aku serahkan semua masalah ini kepada kalian bertiga dewa hidup!”
Siluman pertama tertawa terkekeh, sambil memeluk tubuh Su Kiau-kiau, katanya lagi, “Sayang, besok pagi aku akan mulai turun tangan terhadap mereka.”

Sembari berkata, sepasang tangannya mulai menggerayang badan perempuan itu.
Siluman kedua segera melirik sekejap ke arah Ni Ceng-hiang, lalu sambil tertawa dia menggapai ke arahnya.
Biarpun merasa muak dalam hati, Ni Ceng-hiang berlagak seolah-olah tidak mengerti.
“Sumoay,” seru Su Kiau-kiau kemudian tertawa jalang, “Lo-sinsian ingin menyayangimu, hehehe

Baru saja Ni Ceng-hiang hendak menampik dengan alasan badannya tak sehat, tahu-tahu siluman kedua telah menggapaikan tangan kanannya, tak tahan lagi tubuhnya terhisap sehingga maju selangkah ke depan.

Menghadapi kejadian seperti ini, diam-diam dia pun menghela napas panjang, kemudian berjalan mendekat.
Bwe Si-jin yang menyaksikan kejadian itu merasa amat gusar, namun dia tak berani mengumbar hawa amarahnya, terpaksa sambil menahan rasa mendongkol dia pun mengundurkan diri dari kamar.

Berhubung Su Kiau-kiau telah balik, walaupun Bwe Si-jin masih melakukan kontak dengan Cauji, namun dia tak berani bertindak sembarangan.

Dari mana dia tahu kalau saat itu Cau-ji sedang menyamar menjadi seorang sastrawan berusia pertengahan dan duduk di atas loteng Jit-seng-ciu-lau sambil meneguk arak?

Ketika melihat kemunculan tiga siluman dari wilayah Biau, dia seketika tertarik perhatiannya oleh dandanan serta gerak-gerik ketiga orang itu, saat itu dia sedang berusaha mendekati orang-orang itu.

Berhubung identitasnya sebagai Hek Hau-wan telah disiarkan sebagai jelmaan dari Manusia pelumat mayat, saat ini dia pun kehabisan akal untuk mencari peluang itu.
Sementara dia masih pusing tujuh keliling, mendadak terlihat Im Jit-koh sedang berjalan menuju ke meja kasir, dengan perasaan girang segera bisiknya dengan ilmu menyampaikan suara, “Jit-koh, aku berada di atas loteng!”

Habis berkata, dia pun berteriak keras, “Pelayan, siapkan sepoci arak lagi!”
Im Jit-koh segera menyahut, sambil membawa sepoci arak ia berjalan menghampirinya.
Sambil tersenyum Cau-ji manggut-manggut, tiba-tiba ia saksikan Im Jit-koh menjatuhkan segulung kertas ketika sedang mengambilkan mangkok baginya, kemudian menindih gulungan kertas itu dengan poci arak.
“Apakah tuan masih menghendaki sesuatu?” tanyanya nyaring.
“Cukup, kalau perlu aku akan memanggil lagi.”

Menggunakan kesempatan ketika orang tidak menaruh perhatian, diam-diam Cau-ji membuka gulungan kertas itu dan membaca isinya:
“Besok pagi Jit-seng-kau akan mulai menyerang partai-partai besar!”

Diam-diam Cau-ji terkesiap, cepat dia simpan kertas itu dalam saku, lalu sambil meneguk arak dia mulai putar otak mencari akal.
Akhirnya cepat dia membayar rekening, kemudian berangkat menuju ke bukit Gak-li-san.
Gunung Gak-li-san terletak di samping sungai Leng-kang, bukan saja pemandangan sangat indah, bahkan bisa ditempuh baik lewat jalan darat maupun jalan air.
Setelah menyeberangi sungai, Cau-ji segera menelusuri jalan perbukitan dan menuju ke puncak gunung.

Sepanjang jalan seringkali ia mendengar suara kicauan burung dari balik pepohonan, Cau-ji tahu kalau suara itu bukan kicauan burung melainkan kode rahasia petugas yang berjaga di sana, karenanya sambil tersenyum kembali ia melanjutkan perjalanan.

Ketika tiba di punggung bukit, segera terlihatlah pagar kayu yang tinggi menghadang perjalanan selanjutnya, di antara pagar kayu itu terdapat sebuah pintu, di atas pintu tergantung papan nama yang berbunyi, “Khe-sim-jut-mo” (bersatu-padu membasmi iblis).

Baru saja dia akan melangkah masuk ke pintu pagar itu, tampak seorang Tosu dan seorang Hwesio muncul menghadang jalan perginya.
Tampak Hwesio berusia tiga puluh tahunan itu menegur, “Omitohud, boleh tahu siapa nama Sicu? Ada urusan apa datang kemari?”

“Aku dari marga Ong dengan julukan Manusia pelumat mayat, khusus datang kemari untuk turut serta membasmi kaum iblis!”
Begitu mendengar gelar itu, kedua orang itu nampak sangat terperanjat, dengan mata terbelalak lebar jeritnya, “Manusia pelumat mayat?”

“Benar, tolong tanya apakah It-ci Lo-siansu dan Goan-tong Ciangbunjin berada di sini juga?”
Mendengar pertanyaan ini, Hwesio itu segera tahu kalau orang ini tak lain adalah Ong-kongcu yang pernah menyelamatkan biara mereka dari bencana.
Sahutnya cepat dengan sikap hormat, “Silakan Sicu mengikuti Pinceng!”
Cau-ji diajak menelusuri bangunan rumah yang berderet-deret sepanjang jalan sebelum akhirnya tiba di sebuah bangunan yang luas.

Tampak Hwesio itu melanjutkan perjalanan ke dalam ruangan, tampaknya dia sedang memberi laporan.
Tak lama kemudian terdengar sorak-sorai bergema dari balik ruangan diikuti munculnya segerombol manusia.

Author: 

Related Posts