Cerita Sex Gratifikasi Donat – Part 4

Cerita Sex Gratifikasi Donat – Part 4by adminon.Cerita Sex Gratifikasi Donat – Part 4Gratifikasi Donat – Part 4 BAB II. GRATIFIKASI TAWA Dion merupakan wartawan licin. Kapan harus bersikap sesuai kode etik jurnalisme dia lakoni. Sebaliknya, pada waktu mana wajib melakoni peran demi keuntungan pribadi juga dijalani secara sungguh sungguh. Sebagai pria muda dengan jam terbang tinggi dalam mencari berita, dunia malam merupakan sebuah bidang kehidupan yang diakrabinya. […]

multixnxx-Alaina comes home from school to find her -12 multixnxx-Alaina comes home from school to find her -13 multixnxx-Alaina comes home from school to find her -14Gratifikasi Donat – Part 4

BAB II. GRATIFIKASI TAWA

Dion merupakan wartawan licin. Kapan harus bersikap sesuai kode etik jurnalisme dia lakoni. Sebaliknya, pada waktu mana wajib melakoni peran demi keuntungan pribadi juga dijalani secara sungguh sungguh. Sebagai pria muda dengan jam terbang tinggi dalam mencari berita, dunia malam merupakan sebuah bidang kehidupan yang diakrabinya. Tiga unsur utama pembentuk dunia malam ; hiburan, wanita, dan zat perangsang telah menjadi makanan sehari-hari bagi Dion.

Malam ini, Dion melihat seorang wanita cantik tengah berdiri bingung dalam kamar hotel nomer 415. Dara cantik berkulit sawo matang dengan ikatan tangan yang baru dibuka sedang dirangkul oleh wanita petugas berambut pendek. Muncul niat iseng Dion mengabadikan ketelanjangannya.

Bukankah sebuah berita akan makin menjual bila menampilkan gambar wanita telanjang??. Contohnya ; sebuah razia tempat hiburan malam tanpa dibumbui kemunculan wanita berpakaian minim tentu tak akan menjadi headline surat kabar. Akan tetapi, bila dibumbui berita tentang striptease dalam tempat hiburan berita tersebut??? itu baru berita.

Hidup butuh wanita tanpa busana. Dion adalah wartawan pementasnya.

Sekarang wanita di hadapannya siap dipentaskan. Maka diarahkan tanpa ragu-ragu kameranya untuk menyorot tubuh bugil sang wanita.

Hmmm, Dion menulan ludah menyaksikan kesintalan tubuh dara cantik di depannya. Paha mulus si wanita begitu padat berisi. Dari cahaya video kameranya sendiri, Dion melihat daerah paha wanita cantik tersebut ditumbuhi bulu-bulu halus yang terjuntai begitu menggairahkan. Ratusan kupu-kupu malam telah dia sambangi tapi belum pernah ada yang memiliki sensualitas sedahsyat ini.

Jangan sorot dia!!, sebuah ucapan lirih keluar dari seorang aparat berusaha menghentikan sorotan nakalnya.

Dion cuek. Tidak ada seorang pun yang berani menghadang wartawan sekarang. Masa dimana para kuli tinta harus tiarap sembunyi-sembunyi menulis berita telah berlalu. Kini zaman superioritas pers. Dari Kepala Negara hingga Kepala Rumah Tangga wajib memberi jawaban bila ditanya oleh wartawan. Tidak mau menjawab? resiko tanggung sendiri. Citra maupun karakter yang bersangkutan bisa jatuh di tangan para pembuat berita.

Maka jantung Dion sontak berhenti ketika wanita berambut pendek, tanpa ragu-ragu menodongkan senjata tepat ke wajahnya.

JANGAN SOROT DIA!!! KAMU GAK TAU SOPAN SANTUN???.

Kata-kata tegas yang menciutkan nyalinya itu bukan kalimat biasa. Dibalik untaian kata-kata terselip kekuatan jiwa orang yang mengucapkannya. Dion tau, si pengucap pasti bukan orang sembarangan. Belum sempat dia lihat secara seksama wajahnya, nyali Dion telah ciut.

Walaupun demikian, Dion berusaha mengembalikan harga dirinya, diturunkan kameranya, kemudian dia melotot ke arah wanita yang tubuhnya lebih pendek darinya.

APA LOE?? LOE GAK TAU GUE WARTAWAN???, bentaknya menatap mata lekat-lekat.

GAK ADA URUSAN!!!.

TAMAT LOE BESOK!! GUE TAYANGIN VIDEO LOE LAGI NODONG WARTAWAN!.

O YA???, si wanita tanpa menurunkan senjatanya maju.

Tep, dengan gerak tangan demikian cepat, dia merebut kamera.

Braaagg, si wanita membanting kamera ke lantai.

Kreeekk, kamera Dion hancur seketika diinjak hak sepatu.

HAAAHHH., Dion kehilangan nafas saking emosinya, APA-APAAN LOE???? GAK PUNYA OTAK APA?? HARGA KAMERA INI LEBIH MAHAL DARI GAJI LOE SETAHUN MONYET.

TERUS???, si wanita rambut pendek berdiri tegak menantang Dion.

Sheila saksi bawa keluar!!!, Pria kurus bernama Ramlan yang sebelumnya juga emosi dengan kelakuan anak buahnya, maju melerai.

Zul gelandang saudara Samir ke mobil!!, Ramlan lanjut mengintruksikan.

Suasana tegang begitu terasa di dalam kamar 415.

***

Miranti melangkah ke luar kamar dengan kaki tanpa rasa. Dunia seolah-olah berhenti berputar untuknya. Sejak kumpulan orang-orang berpakaian rapi mendobrak kamarnya, dirinya syok.

Sejadinya rasa traumatis mulai merasukinya sejak partnernya melakukan kekerasan seksual. Namun tuntutan professional pada kerjaan sebagai wanita panggilan membuatnya berusaha mengabaikan rasa itu. Selaku wanita yang tengah berusaha mengumpulkan uang dari dunia lendir , mendapat kekerasan ketika beraksi adalah resiko.

Dalam pikiran Miranti, semua luka bisa hilang cepat. Tapi kedatangan Detasemen anti korupsi akan meninggalkan luka yang tak dapat disembuhkan.

Tergambar jelas dalam bayangan Miranti ; wajahnya yang akan dipermalukan dengan terpampang di media elektronik, cetak, maupun on line. Miranti tak bisa membayangkan tubuh telanjangnya menjadi tontonan semua kalangan masyarakat. Luka psikologis akan menganga di hatinya. Siapa sangka kliennya rupanya koruptor target bidikan detasemen anti korupsi.

Ahhhhhhhh, Miranti ingin menjerit sejadi-jadinya menyesali semua keputusannya yang telah membawanya ke pintu gerbang kehancuran. Berusaha dia kumpulkan sisi baik dari tragedy malam ini, agar dia tidak gila.

Hmmm , dielus pipinya agar mengingatkan dia baru saja digampar habis-habisan. Siapa yang menolongnya?? anggota anti korupsi itu sendiri.

Terbit rasa terima kasih Miranti pada wanita berambut pendek tadi. Bagaimana sikap tegasnnya menghancurkan kamera, telah menyelamatkan sebagian dari harga dirinya. Teringat jelas bagaimana pertolongan wanita tadi, menjadi pemandangan terindah dalam sebuah tragedy kehidupan.

Mbak gak kenapa-kenapa??, seorang wanita cantik di sebelahnya bertanya hangat.

Ggggaakk kkennapaa.

Pake dulu mantelnya baik-baik biar tubuh Mbak terlindung.

Iiiyyaaa, dengan merinding Miranti membetulkan posisi mantelnya.

Anu Mmbaak ssaayya booleehh puulang sekarang??, pertanyaan yang mengandung harapan besar dilontarkan Miranti.

Belum!. Mbak harus kami mintai keterangan dulu, jantung Miranti berhenti berdetak, Siapa nama Mbak??

Miranti.

Saya Sheila.

***

KASIH TAU ANAK BUAH BAPAK BUAT NGEJAGA KELAKUANNYA!! KAMI WARTAWAN PUNYA HAK MELIPUT, TIDAK BOLEH ADA YANG BOLEH BERBUAT BEGINI KEPADA KAMI!!.

Febi melihat wartawan itu berteriak-teriak sambil menuding-nuding ke arahnya. Zul orang keparcayaan Pak Ramlan berada di sisi Febi untuk menahannya agar tidak melakukan aksi emosional kembali.

Tenanglah Dion! kami janji akan mengganti semua kerugian akibat rusaknya kameramu!, Pak Ramlan berusaha menenangkan Dion.

Brrrrttbbrrrtttbrrrtttttt, bunyi ponsel serentak berdering di ponsel setiap anggota detasemen anti korupsi yang masih bertahan dalam kamar 415.

BAPAK HARUS PECAT CEWE SIALAN INI!!, Dion masih berteriak-teriak.

Perhatian Febi terpusat pada perintah dari markas besar. Dia mengabaikan ocehan Dion.

SELURUH REGU ZEBRA SEGERA MELUNCUR KE KAWASAN GEDUNG PERTEMUAN XXX UNTUK MENANGKAP TERSANGKA KEDUA!!!, kata suara operator memberi perintah.

Semua turun ke bawah!!! Febi kamu ikut naik mobil bersama Sheila. Dion kamu ikut saya!, Pak Ramlan memberi intruksi taktis.

SAYA GAK MAU IKUT KEMANA-MANA. GANTI DULU KAMERA SAYA!!! MAU NGELIPUT PAKE APA KALO GAK ADA KAMERA??.

Gampang pake aja kamera hape mu, BERESKAN??, Febi nyeplos.

KURANG AJARAPA KATAMU????……

ZUL BAWA FEBI KE BAWAH CEPAT!!!, Pak Ramlan berteriak.

Febi melangkah keluar. Beriringan dengan Zul dia berjalan dalam diam. Zul juga diam. Peristiwa dalam kamar masih membuat mereka tegang.

Misi kedua Pak?, Febi berusaha mencairkan suasana.

Iya.

Kakap??.

Sangat.

Pasti seru.

Jangan bikin keributan lagi Febi!!.

Siap tidak lagi Pak Zul.

Author: 

Related Posts