Cerita Sex Akulah Lelakimu. – Part 10

Cerita Sex Akulah Lelakimu. – Part 10by adminon.Cerita Sex Akulah Lelakimu. – Part 10Akulah Lelakimu. – Part 10 Chapter 9; Dias….??? Pasca kehamilan Erlin yang sudah berjalan 2 bulan. Dalam 2 bulan itu gue benar-benar lebih giat dalam mencari kerjaan. Gue yakin semua akan indah pada waktunya. Gue yakin hubungan kami sudah akan sampai pada tujuan terakhirnya. Ya.. Semua akan baik-baik saja. Itulah keyakinan gue. Tapi tidak untuk […]

tumblr_ns7k9b9GiX1tttj14o5_1280 tumblr_ns7k9b9GiX1tttj14o6_1280 tumblr_ns7k9b9GiX1tttj14o7_1280Akulah Lelakimu. – Part 10

Chapter 9; Dias….???

Pasca kehamilan Erlin yang sudah berjalan 2 bulan. Dalam 2 bulan itu gue benar-benar lebih giat dalam mencari kerjaan. Gue yakin semua akan indah pada waktunya. Gue yakin hubungan kami sudah akan sampai pada tujuan terakhirnya.

Ya.. Semua akan baik-baik saja. Itulah keyakinan gue. Tapi tidak untuk keluarga Erlin..

Keluarga gue setuju. Meski abang gue sedikit sedih sih harus dilangkahin sama adik bontotnya ini. Wajah kami berdua terpancar bahagia mendengar kabar kerestuannya hubungan kami yang didapat dari keluarga gue.

Satu masalahnya adalah.. Kami masih yakin jika keluarga Erlin juga pasti setuju. Tapi tuhan telah menetapkan yg lain pada takdir hubungan kami.

Keluarga Erlin sangat marah mendengar Erlin sudah Hamil 2 bulan dan sudah siap untuk gue nikahi. Ayahnya memandang benci pada gue saat kami menyampaikan niat baik kami itu. Dia tidak setuju. Sangat!! Dia mengharamkan hubungan kami berdua jika masih bersama.

Mendengar hal menyakitkan itu. Keyakinan awal gue hancur berkeping-keping. Sifat pesimis gue merajai hati ini. Gue linglung pada kenyataan yang akhirnya menjatuhkan keyakinan gue. Kami terhempas, terjerembab ke lubang penuh duri. Duri-duri yang melekat pada kenyataan malam ini.

“KAMU LEBIH BAIK PERGI, NAK!! JANGAN PERNAH LAGI HUBUNGI ANAK SAYA!! KAMU MERUSAK MASA DEPANNYA!! KAMU SADAR ITU!!” Maki Ayahnya kepada gue, yang masih tertunduk lesu. Jiwa pengecut gue mengalahkan jiwa keberanian gue.

“Dendi nggak merusak masa depan Erlin, yah. Justru Dendilah yang memperlihatkan masa depan kita. Didalam perut ini adalah anaknya Dendi, yah!” Lirih Erlin memohon pada ayahnya. Ucapnya pelan diiringi tangisnya.

Ayahnya masi memaki. Menghina-hina niat tulus kami. Gue pandang wajah sedih Erlin yang masih memohon pada ayahnya. Tubuhnya memeluk kaki ayahnya. Ia berlutut. Mengiba nasib masa depan kami.

“BRUAAAAAAKKK!!!” Erlin terpental membenturkan tubuhnya pada Meja yang ada didekatnya. Untungnya tak terjadi apa-apa pada janinnya.

Melihat itu gue sangat marah. Namun jiwa pengecut ini masih melekat mempermalukan gue. Gue hanya berdiri untuk membantu Erlin berdiri. Namun..

“PLAAAAAAKKKKKK!!” Sebuah tamparan keras mendarat di pii gue, membuat gue terpental. Keluarga Erlin lainnya yang menyaksikan hanya sanggup menatap sedih pada kami. Entah mereka juga tidak berbuat apa2. Tak satupun bantuan datang ada pada kami disaat itu.

“JANGAN COBA-COBA SENTUH ANAK SAYA LAGI!! SEKARANG JUGA KAMU PERGI!! BANGSAAT!! BUUUUUUKKK” sebuah makian mengusir dan sebuah tendangan yang mengarah telak ke perut gue ini menandakan kesabarannya yang sudah meledak-ledak itu sampai pada akhirnya.

Gue sadar, gue udah nggak sanggup berbuat apa-apa. Gue berdiri menahan sakit. Membalas pandangan Erlin. Wajah kami bertemu dalam tangis. Ingin rasanya gue meminta maaf pada Erlin karena gue terlalu pengecut saat ini. Gue nggak mampu melawan. Dan gue berpikir kalopun gue melawan, tak mungkin juga keadaan akan menjadi lebih baik. Justru malah akan memperparah sepertinya.

“Maafin aku sayang, ternyata bukan akulah yang pantas menjadi lelakimu. Maaf!” Gue mengucap dalam hati. Meminta maaf pada Erlin kalau ternyata bukan guelah Lelaki sejatinya. Waktu menjatuhkan gue, mengalahkan gue. Memberikan sebuah pukulan-pukulan telak yang melekat pada kenyataan.

Dengan langkah gontai gue keluar rumah Erlin. Tak satupun kata keluar dari mulut gue. Sampai pada saat gue sudah hampir sampai di depan motor gue. Sebuah pelukan hangat tepat menangkap punggung gue.

“Maafin kami ya, nak. Maafin suami ibu”. Sebuah ucapan lirih terucap dari Ibunya Erlin.

Gue masih terdiam.

“Sampai kapanpun, restu seorang ibu untuk hubungan kalian ada pada saya, nak. Saya merestui kalian. Tapi maaf”. Sekali lagi ibunya berucap pelan.

“Tak apa, bu. Ini udah jalannya. Biarlah kenyataan ini memaki kami pada saat ini. Saya sudah siap menerima semuanya. Makasih untuk restunya bu”. Gue tersenyum membalas ucapannya itu. Senyum yang belum mampu menghapus rasa kekecewaan ini.

*****

Sebulan berlalu. Gue memutuskan keluar dari kerjaan yang baru gue dapatkan. Menyendiri untuk saat ini adalah sebuah pilihan tepat. Hanya sepi yang mampu menenangkan jutaan kecewa yang masih melekat pada diri gue selama sebulan ini. Setidaknya gue nggak mencoba bunuh diri. Gue selalu teringat anak yang ada dalam perut Erlin. Anak kami. Anak dari buah cinta kami.

Awalnya gue berpikir tahun ini dan selanjutnya akan menjadi lebih indah. Bahkan saat peristiwa kehamilan Erlin datang, gue masih dengan mantap meyakinkan bahwa “semua akan indah pada waktunya”. Bahwa “semua akan baik-baik saja”. Tapi tidak.. Takdir berkata lain. Jarak dan waktu yang menguasai kenyataan sesungguhnya menghinakan hubungan kami.

Apakah ini sebuah jarak untuk perpisahan?
Apakah ini sebuah kemegahan takdirMu?

Pertanyaan yang terus berulang-ulang gue tanyakan pada waktu. PadaMu tuhan. Bisakah engkau mengatakan pada sang Waktu untuk mendekatkan pada jarak yang pernah kami buat. Pada tujuan yang ingin kami tuju. Atau cukup sampai disini saja perjalanan hubungan kami setelah kami membentangkan lebar-lebar layar besar untuk hubungan kami.

*****

Waktu demi waktu berlalu. Kabar pernikahan Erlin sudah mulai terhembus. Entah dengan siapa akhirnya menikah. Gue salut sama cowok itu. Pasti cowok itu lebih baik, dan pasti lebih siap untuk menjaga Erlin seutuhnya. Gue percaya tahun-tahun kebahagiaan akan menjemput masa depan mereka. Gue percaya itu.

Bulan ini kandungan Erlin sudah tetap berjalan 3 bulan. Pasti perutnya sudah mulai membuncit. Dan lagi, menurut kabar yang gue denger, seminggu lagi mereka menikah. Bahagialah sayang. Dialah Lelakimu.

Setelah peristiwa yang terjadi dua bulan lalu. Kami sudah tak pernah berhubungan lagi. BBM atau no HPnya sudah tidak aktif lagi. Media-media social yg lainnya juga sama. Ayahnya benar-benar mengunci Erlin agar tak berhubungan lagi dengan gue.

Seminggu berlalu lagi. Dan akhirnya mereka menikah. Begitulah kabar yang gue dengar. Mereka menikah di sebuah gedung di jakarta. Pernikahannya cukup mewah. Pasti suaminya Erlin kaya raya. Hmm.. Syukurlah.

Gue sudah belajar menerima takdir, sesungguhnya perih memang, namun manusia tak bisa melawan ketetapan Tuhan. Ketetapan yang ia tetapkan pada waktu dan kenyataan yang ia berikan. Bukankah begitu?

Dendi, Lelakimu

“Teruntukmu, Keindahan dari segala Keindahan.

Aku yakin kamu sudah terlelap saat aku menulis ini, jadi teruslah bermimpi indah seperti yang kudoakan untukmu sebelum kamu terlelap. Aku harap seperti itu.

Saat-saat waktu seperti inilah aku terbiasa sendiri, menunggu waktu dimana rasa kantuk itu akan menjemputku untuk terlelap dan bermimpi indah, seperti memimpikanmu menjadi milikku. Ah andai saja.

Aku berdoa untukmu, untuk kesehatanmu,
untuk karirmu, untuk kebahagiaanmu dan
untuk semua kebaikan yang bisa kamu
dapatkan atas kerja kerasmu meraih mimpi.
Aku berdoa sungguh-sungguh, berharap Tuhan
mengabulkannya.

” Aku bukanlah segalanya, sedang kamu adalah selamanya.”

Teruntukmu keindahanku..

Sebuah puisi yang mungkin mampu sedikit menampung segala kekecewaan gue saat ini. Jujur gue iri dengan cowok yang menjadi pendamping Erlin di pelaminan itu.

Pernikahan Erlin memang semakin menimbulkan perih yang terus menggerogoti hati gue. Kacau balau saat ini. Gue banting2kan wajah gue pada sebuah benda. Namun setelah beberapa saat, tak ada rasa sakitpun yang datang. Kening gue pun tak berdarah, bahkan tak ada lecet sedikitpun. Oh siall!! Ternyata gue membantingkan muka ke sebuah bantal. Pantes aja nggak ada rasa sakit sedikitpun.

Gue tersenyum sendiri melihat tingkah konyol gue yang ternyata masih ada disaat galau seperti ini. Huh!! Biarlah, mungkin cara-cara seperti ini dapat menghibur diri gue. Hmm.. Tapi kalo keseringan juga, takut malah jadi gila gue. Ah nggak boleh. Masa iya anak gue nanti tau kalo dia punya bapak yang sakit jiwa.

Tapi sampai kapan juga gue harus seperti ini. Kapan gue mampu bangkit? Kapan gue dapat tersenyum lepas lagi? Bahkan dotapun tak dapat memberikan sebuah titik cerah untuk menghilangkan badai ini. Gue masih terpaku di dalam kamar gue. Entah sudah berapa jam setelah mendengar Erlin sudah menikah, lagu “Aku Lelakimu” dari Anang Hermansyah ini gue putar berulang-ulang. Lagu yang sangat spesial buat gue. Lagu yang berhasil mewujudkan mimpi Erlin.

Shit!! Shit!! Shit!! Otak gue masih terus dipenuhi bayang-bayang Erlin. Kenangan bersamanya masih terus berputar-putar meledek hati gue. Yaampun dosa apa gue, sampai-sampai takdir menjatuhkan gue seperti ini.

Bangkit!! Ya, gue harus bangkit!! Gue harus kembali berangkat dari awal. Memulai lagi kehidupan yang baru. Biarlah Tahun ini yang gue harapkan dulu mampu memberikan lembaran-lembaran barunya tentang kisah gue dan Erlin itu hilang.

“Melangkahlah kembali dengan tegas di bumi,
Bangkitlah dan melangkah,
Dalam senyuman sang bidadari,
Yang telah terambil.

Kesepian bukan berarti sendirian,
Selalu ada maksud kenapa kau terlahir,
Tersenyum lagi,
Berjemurlah di bawah mentari yang besar,
Aku dapat terbang jauh,
Dunia menungguku untuk bersinar kembali.

Awal yang indah memang selalu datang terlambat,
Butuh Bangkit berkali-kali dalam mewujudkannya
Berdirilah lagi di bumi dengan mata bangga,
Rasakan keberanian yang bersinar di dalamnya.

Sekarang fajar sudah terlihat, waktunya berangkat.

Teruslah bertarung walaupun aku tahu ini tak ada akhirnya,
Aku akan menemukan makna, jawaban dari semua hal,
Aku coba lagi, melewati kegelapan,
Kau pun pergi, itulah masa depan yang bersinar terang, sedang menungguku untuk menggapainya.

Terbang melalui langit biru tak terbatas ini,
Pergi menyeberangi laut biru ini,
Dewa mungkin memberi ciuman kepadaku,
Jangan sampai kehilangan kesempatan itu.

Tak ada kata terlambat untuk memulai apapun yang kau percayai, kemanapun kau pergi”.

Sebuah kata-kata yang mampu kepercayai kalau aku pasti akan sanggup melalui hal-hal sulit ini. Harus!

(POV; Erlin)

Akhirnya hari kelahiran anak pertamaku tiba. Semua keluarga ada disini, siap menyambut kedatangan anggota keluarga baru.
Anak pertamaku hasil hubungan cintaku dengan Lelaki yang sampai saat ini tak akan pernah aku lupakan.

Walaupun sudah ada Lelaki lain yang sudah beberapa bulan ini menemani kehidupan baruku tanpa Dendi. Dialah Suamiku, Mas Adi. Seorang anak muda yang menjadi anak buah ayahku di tempatnya bekerja. Ia termasuk orang kepercayaan ayahku. Ayahku sudah membantunya hidup dalam ketentraman. Maka saat mendengar kehamilanku. Ayahku memintanya untuk menikahiku. Rasa utang budinya kepada ayahku lah yang membuatnya siap menikahiku serta menjagaku.

Saat bayiku lahir, masih dengan lelahku, aku melihat ke sekitar, melihat beberapa keluargaku yang tak menunjukan sikap bahagia sedikitpun. Bahkan Mas Adi juga begitu. Hanya mamah yang terlihat bahagia menyambut cucunya itu. Setidaknya aku bahagia melihat kebahagiaan mamahku itu. Walaupun wajah-wajah sinis itu cukup mengganggu.

Esoknya…

“APAAAAAHH?? KOK MAMAH TEGA, SIH? ITU….” Aku terkejut setelah mendengar pengakuan ibuku. Sungguh terkejut. Hatiku terpukul. Kenapa kok mamah bisa setega ini.

“Erlin, ini demi keselamatan anakmu, nak. Percaya sama Mama, akan lebih baik bayi itu bersama Dendi. Tidak bersama kita” Jawab mamah menjelaskan.

Aku yang masih terbaring lemah dirumah sakit, setelah kemarin aku berjuang melahirkan bayi itu, mengandungnya dengan penuh cinta selama 9 bulan itu. Sampai tiba-tiba mamah mengatakan kalau lebih baik bayiku itu diserahkan kepada Ayahnya Dendi. Ayah kandungnya. Aku kecewa memang, aku sangat ingin membesarkannya. Berharap setiap hari aku seperti bersama Dendi.

“Tapi kenapa mah? Erlin mau membesarkan dia mah, memberikan kasih sayang seorang ibu pada masa kecilnya, mah!”

“Erlin, kamu lihat ekspresi kakak-kakak kamu, Ayah kamu, bahkan suami kamu? Tidak ada yang senang atas kelahiran putramu itu. Hanya mamah yang terharu melihat perjuanganmu melahirkan, mamah bahagia mempunyai cucu lagi. Mamah juga sangat ingin melihat perkembangan saat beranjak dewasa nanti. Tapi apakah kamu mau, melihat anakmu tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah, sedang ia tau, ia punya seorang ayah. Tanpa kasih sayang seorang Kakek, sedang ia tau juga, Kakeknya masih ada. Hanya mamah dan kamu yang nantinya dapat membuat ia tersenyum. Mamah nggak tega jika membayangkan hal itu, Lin”. Akhirnya mamah menjelaskan maksudnya, Airmata Mamah terus mengalir membasahi pipinya.

Sementara aku masih terdiam dalam tangis, menatap bayi yang masih ada disebelah ranjangku terbaring lemah. Saat ini, diruangan ini, hanya ada aku, anakku dan mamahku. Tak ada yang menemaniku dirumah sakit selain mamah. Suamiku bahkan sudah mulai kembali sibuk pada kerjanya.

“Kamu cinta kan sama Dendi? Mamah tau itu. Makanya biarlah Dendi yang merawat bayi ini. Agar lebih baik ia mengetahui tak punya seorang ibu, daripada ia tahu memiliki seorang ayah, tapi tak ada kasih sayang dari ayah yang ia tahu itu, Apa kamu tega, saat besar nanti anakmu ini bertanya-tanya, kenapa keluarganya seperti menjauhkan dia. Apa kamu lebih memikirkan Ego kamu, Erlin?” Deeeeeeggg,, kali ini penjelasan mamah membenarkan suatu hal yang tak pernah aku pikirkan. Aku menyetujui perkataan mamah, aku tidak ingin anakku tumbuh besar seperti orang yang terasingkan. Aku tidak sanggup membayangkan wajah sedihnya nanti.

Dengan siap aku mengatakan setuju pada mamah, yang lalu berdiri mengambil anakku. Dia cium anak yang belum mendapati namanya itu. Lalu mamah memberikan anak itu kepadaku. Aku menggendongnya, tangisku siap merelakannya. Aku ikhlas. Aku percaya Dendi akan menjadi ayah baik.

“Tokk.. Tokk.. Tokk” suara pintu kamar tempatku di ketuk. Ah siapa itu.

Mamah tersenyum puas, sepertinya dia mengetahui siapa yang datang. Dan sepertinya saat ini sudah dalam rencananya.

“Siapa itu, mah? Tanyaku pada mamah yang masih tersenyum puas.

“Liat aja nanti”. Jawabnya singkat.

Pintu itu mulai terbuka… Sedikit demi sedikit sampai akhirnya orang yang dibalik pintu itu dapat kulihat sepenuhnya.
Astaga, aku benar-benar terkejut. Sangat terkejut. Mataku mulai memancarkan sinar bahagia. “Deeeenn.. di” ucapku lirih. Tak sanggup lagi melanjutkan suaraku yang masih dalam kebahagiaan yang penuh takjub.

Dendi berjalan mendekati kami berdua, senyumnya begitu lepas. Dia tak menunjukkan kesedihannya sedikitpun. Aku tau ia begitu tersiksa selama ini. Tapi, wajah dengan senyumnya itu masih menunjukkan sinar cerahnya. Yaampun ada yang berbeda ternyata. Badannya terlihat lebih berisi, namun pipi tirusnya masih belum ilang. Rambut tebelnya yang berponi itu telah berubah menjadi klimis ala mafia-mafia maksiko. Ah.. Dendi semakin terlihat tampan dengan Jas hitam yang ia kenakan itu. Sangat berubah. Apa saat melihatku dengan keadaan seperti ia memuji kecantikanku saat kita masih bersama dulu.

Dia mendekati mamah, mencium tangan mamah, mamah pun lalu memeluknya, bahkan mamah mencium kening Dendi.

Lalu Dendi menjatuhkan tubuhnya di ranjang tempat aku berbaring.
“Hae..” Sapanya membuyarkan lamunanku saat masih sedang menatapnya.

“Dih, kok diem aja sih. Nggak seneng nih, aku dateng?” Ucapnya lagi.

Aku tak menjawab setiap ucapannya. Diiringi airmata kebahagiaan yang mulai menutupi kesedihanku tentang rencana mamah tadi. Aku langsung memeluknya. Memeluk seerat-eratnya. Dendi sempat terkejut. Aku tak peduli walaupun statusku sekarang. Aku merasa kembali bersama-sama seperti dulu.

Dendi mengusap lembut kepala belakangku. Hampir beberapa menit kami berpelukan masih dalam heningan kami. Pelukan kami terlepas. Kami salang tatap, mata kami bertemu. Ah, sungguh luar biasa momen ini.

“PLAAAAAAKKKKKK!! PLAAAAAAAAAKKKKKKK!!” Aku menampar kencang pada pipi tirusnya itu. Dendi terkejut.

“Lho kok?” Dia bertanya bingung.

“Itu tamparan untuk pertemuan kita lagi”. Jelasku

“Seeeh! Masih gahar aja”.

Kami tertawa, lalu kembali lagi dalam pelukan. Mamahku menatap bahagia melihat tingkah laku kami berdua.

“Eh.. Itu anakku kan? Lucu banget sih, hae boys. Ayahmu datang, nak” sapanya kepada anak lucu kami.

Dendi menggendongnya, menatapnya.. Dia seperti sedang berpikir.

“Hmm.. Aaaaakhhh!!, Dias Brilliant Pratama”. Dendi mengucapkan sebuah nama. Apa itu.. Belum sempat aku melanjutkan pikiranku dia sudah kembali berbicara.

“Bagus kan, Lin, bagus kan, mah. Namanya” dia bertanya bangga kepadaku dan mamah.

Bersambung

Author: 

Related Posts